Assalamualaikum,
Teman-teman
mahasiswa yang saya banggakan, kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia agar
mereka menjadi khalifah di muka bumi, mereka telah dibekali dengan apa saja
yang telah dibutuhkan untuk kepentingan kekhalifahan ini. Tampak jelas bahwa
Allah telah memberi mereka ilmu sebagai kepentingan utama untuk semua itu,
sebagaimana bekal yang mula-mula Allah berikan kepada Nabi Adam a.s., yaitu al
‘ilmu.
وَعَلَّمَ
ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ
أَنۢبُِٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١
Artinya:
“Allah
telah mengajarkan Adam tentang nama-nama (karakteristik) semua yang ada.” (Al –
Baqoroh: 31)
Dalam konsep
dasar pendidikan dan psikologi Islam, telah kita yakini bahwa setiap manusia
yang lahir di dunia membawa fitrahnya masing-masing. Sesuai dengan firman Allah
SWT :
فَأَقِمۡ
وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ
عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ
وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠
Artinya:
"Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui" (Ar Rum
30: 30)
Fitrah yang
disebut dalam dalil di atas sesungguhnya adalah potensi. Potensi adalah
kemampuan. Jadi fitrah yang dimaksud disini adalah pembawaan manusia yang
dianugerahkan oleh Allah sebagai bekal dalam mengarungi kehidupan di dunia.
Sehingga para ilmuwan sepakat disebut sebagai talenta. Dan kemampuan-kemampuan
dalam dirinya disebut sebagai kecerdasan.
Sebagian besar
orang menggap kecerdasan itu hanya sebatas kemampuan menyelesaikan masalah
akademik saja. Keyakinan semakin berat ketika ditunjukkan dengan hasil
angka-angka absolut sebagai representasi dari kemampuan tersebut. Padahal semua itu
bukanlah menjadi ukuran mutlak atas keberhasilan seseorang.
Nah, berikut
akan kita bahas secara sederhana terkait anugerah besar Tuhan ini dari sudut
pandang dan teori dari para ilmuwan.
Kecerdasan
Intelektual
Kecerdasan
intelektual atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan kecerdasan yang
dibangun oleh otak kiri. Kecerdasan ini mencakup kecerdasan linear, matematik,
dan logis sistematis. Kecerdasan ini menghasilkan pola pikir yang berdasarkan
logika, tepat, akurat, dan dapat dipercaya. Orang dengan kecerdasan ini akan
mampu memiliki analisis yang tajam dan memiliki kemampuan untuk menyusun
strategi dengan baik.
Kecerdasan
Emosional
Kecerdasan
emosional merupakan kemampuan individu untuk mengenal emosi diri sendiri, emosi
orang lain, memotivasi diri sendiri, dan mengelola dengan baik emosi pada diri
sendiri dalam berhubungan dengan orang lain. Orang dengan EQ yang baik, mampu
menyelesaikan dan bertanggung jawab penuh pada pekerjaan, mudah bersosialisasi,
mampu membuat keputusan yang manusiawi, dan berpegang pada komitmen.
Dalam teorinya
Robert K.Cooper, Ph.D. menjawab bahwa kecerdasan Emosi adalah kemampuan
merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya emosi sebagai sumber
energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi.
Kecerdasan
Spiritual
Kecerdasan
spiritual berhubungan dengan perlindungan dan pengembangan jiwa, yang dalam
Kamus Bahasa Inggris Oxford didefinisikan sebagai “identitas moral dan
emosional” serta intensitas dari “energi intelektual dan emosional”.
Seorang pakar
spiritual mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kemampuan menggunakan
spiritualisme sebagai cara untuk mencapai tujuan dan memecahkan masalah.
Menurutnya kecerdasan spiritual terdiri dari empat kemampuan berikut:
- Mampu mengendalikan tubuh dan benda di sekitar.
- Mampu mengambil manfaat dan makna dari pengalaman sehari-hari.
- Mampu memanfaatkan sumber daya spiritual untuk memecahkan masalah.
- Berbudi luhur.
AQ (Adversity
Quotient)
AQ (Adversity
Quotient) adalah kecerdasan seseorang dalam mengatasi tantangan atau kesulitan
hidup tanpa merasa putus asa. Setiap individu memiliki pola pikir yang berbeda2
dalam memandang "Adversity" (tantangan, kesulitan, hambatan maupun
emosi). Hanya individu yang ber AQ tinggi mampu bertahan hidup (survive).
Melihat dari
paparan diatas, sejenak pasti terbesit dalam benak kita bahwa diantara
kecerdasan itu memiliki prioritas yang harus kita kembangkan secara maksimal.
Hingga muncul pertanyaan, diantara kecerdasan diatas, manakah yang lebih baik ? atau, manakah yang paling bisa mendorong kesuksesan kita ? tentunya jawaban yang pasti TIDAK ADA ! karena semua kecerdasan diatas itu
saling bersinergi satu sama lain. bahkan masing-masing kecerdasan memiliki ruang,
waktu, dan daya guna tersendiri dalam memecahkan masalah hidup yang sangat dinamis ini.
Sadar, bahwa orang yang
cerdas dan berIQ tinggi tidak akan dihormati jika dia tidak menghormati orang
lain. Ataupun orang yang cerdas, pandai
bersosialisasi tapi tidak bisa survive menghadapi hidup dan selalu merasa putus
asa juga tidak akan bisa bertahan. IQ, EQ, SQ dan AQ ibarat anggota tubuh,
saling memberikan manfaat dan haruslah tumbuh bersama agar bisa digunakan
sebagaimana fungsinya. Walaupun ada salah satu yang dominan bukan berarti
kecerdasan yang lain tidak bisa dioptimalkan.
Inilah sesungguhnya
wujud anugerah Allah Yang Maha Kuasa yang begitu kompleks namun
memiliki esensi berupa manfaat yang luar biasa jika kita mau berfikir. Lantas
nikmat mana lagi yang akan engkau dustakan ? Subhanallah. Wallaahu a’lam
bisshawab.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar